Category Archives: Jurusan

Perumusan visi

02

Pada saat perumusan visi misi biasanya merupakan proses yang melelahkan bahkan sering menjadi perdebatan sendiri antar anggota organisasi. Tetapi pada saat visi dan misi sudah terbentuk, pelaksanaannya menjadi tidak sesuai. Jadi sungguh disayangkan sekali jika proses perumusan visi misi yang melelahkan pada akhirnya hanya menjadi hiasan dinding semata

Pertanyaannya adalah kenapa hal ini bisa terjadi? Tentunya ada yang salah dengan visi misi tersebut sehingga hanya dijadikan hiasan dinding semata. Dari beberapa artikel yang saya baca, agar visi dan misi tidak hanya berakhir di dinding kantor saja maka terdapat beberapa panduan agar visi misi dapat menjadi kekuatan dalam mencapai tujuan organisasi.

Jansen Sinamo (2005) yang memberikan beberapa kriteria mengenai kriteria visi dan misi yang hidup dan efektif, di antaranya adalah :

  • Visi-misi harus sesuai dengan roh zaman dan semangat perjuangan organisasi
  • Visi-misi harus mampu menggambarkan sosok organisasi idaman yang mampu memikat hati orang
  • Visi-misi harus mampu menjelaskan arah dan tujuan organisasi
  • Visi-misi harus mudah dipahami karena diungkapkan dengan elegan sehingga mampu menjadipanduan taktis dan strategis
  • Visi-misi harus memiliki daya persuasi yang mampu mengungkapkan harapan, aspirasi, sentimen, penderitaan para stakeholder organisasi
  • Visi-misi harus mampu mengungkapkan keunikan organisasi dan menyarikan kompetensi khas organisasi tersebut yang menjelaskan jati dirinya dan apa yang mampu dilakukannya
  • Visi-misi harus ambisius, artinya ia harus mampu mengkiristalkan keindahan, ideal kemajuan, dan sosok organisasi dambaan masa depan, sehingga mampu meminta pengorbanan dan investasi emosional dari segenap stakeholder organisasi.

Visi yang efektif antara lain harus memiliki karakteristik seperti :

  • Imagible (dapat di bayangkan).
  • Desirable (menarik).
  • Feasible (realities dan dapat dicapai).
  • Focused (jelas).
  • Flexible (aspiratif dan responsif terhadap perubahan lingkungan).
  • Communicable (mudah dipahami).

Visi-Misi Organisasi

a

Visi-Misi Organisasi

Tentunya istilah visi bukan lagi hal yang baru bagi kita semua. Biasanya, istilah ini juga akan dikaitkan dengan misi. Penggunaan visi atau misi biasanya digunakan oleh perusahaan atau organisasi. Namun, bagaimana proses perumusan visi itu sendiri ?

Hampir sebagian bahkan semua organisasi apabila ditanya tentang ”Apakah organisasi saudara mempunyai visi dan misi?” maka semuanya akan menjawab punya, tapi hampir sebagian besar dilematika dalam organisasi adalah bagaimana peran dari visi dan misi yang mereka susun tersebut. Apakah visi dan misi tersebut dipakai sebagai kekuatan dalam mencapai tujuan organisasi ataukah hanya berakhir sebagai hiasan dinding yang dipajang di kantor?

Visi-misi organisasi merupakan perumusan pandangan organisasi untuk mencapai maksud dan tujuan yang menjadi bidang garapannya, sementara visi-misi individu pemimpin merupakan perumusan langkah-langkah dan pandangan dari pemimpin itu untuk mewujudkan tercapainya visi misi organisasi.

Pada pelaksanaanya, tak sedikit organisasi ataupun orang perseorangan kebingungan dalam perumusan dari visi-misi yang seharusnya dirumuskan sebelum suatu organisasi terbentuk atau sebelum seseorang didaulat ataupun diangkat menjadi seorang pemimpin.

Jika sudah demikian, biasanya arah organisasi atau pemimpin yang tidak merumuskan visi misi dari awal, menjadikan organisasi berjalan apa adanya dan tidak ada arah yang jelas kemana organisasi akan berlabuh mencapai tujuannya.

Oleh karenanya, visi-misi menjadi sesuatu yang mutlak ada dan dikuasai oleh elemen organisasi, dan yang terpenting adalah dikuasai oleh pimpinannya, karena visi-misi ini merupakan perumusan atas segala rencana/planning yang merupakan langkah pertama yang harus ditempuh dalam prinsip-prinsip manajemen.

Manfaat hubungan antar pribadi

communication

Manfaat hubungan antar pribadi

Adapun beberapa manfaat hubungan antar pribadi, di antaranya adalah sebagai berikut :

  • Menemukan Diri Sendiri. Salah satu tujuan komunikasi interpersonal adalah menemukan personal interpersonal dengan orang lain kita belajar banyak sekali tentang diri kita maupun orang lain. Komunikasi interpersonal memberikan kesempatan kepada kita untuk berbicara tentang apa yang kita sukai dan kita ingini.
  • Menanamkan Identitas yang Positif kepada Orang Lain, sehingga kita memiliki image yang baik di mata masyarakat. Dengan demikian, mereka memiliki kesempatan lebih untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kemampuan komunikasi interpersonal yang baik.
  • Membuka Wawasan Diri untuk Mulai Memahami Orang Lain di Luar Diri Kita. Informasi-informasi yang kita dapatkan tentang orang lain dapat memudahkan kita untuk memprediksi bagaimana pola pikir individu tersebut, bagaimana cara mereka menyikapi suatu permasalahan, bagaimana pendapat dan perasaan mereka terhadap sesuatu hal.
  • Lebih Mudah dalam Menghadapi Individu dan dapat Meminimalkan Kemungkinanterjadinya konflik antara cara pandang kita sendiri dengan cara pandang orang tersebut.
  • Memahami Emosi dan Muatan Emosi tersebut
  • Dapat Memahami Makna Tersirat yang disampaikan Maupun ditampilkan oleh orang lain.
  • Bisa Memprediksi Tingkah Laku Orang Lain
  • Dan masih banyak lagi

Faktor yang mempengaruhi hubungan interpersonal

848162_detail

Faktor yang mempengaruhi hubungan interpersonal

Terdapat beberapa hal yang mempengaruhi hubungan interpersonal, yaitu :

  • Komunikasi efektif. Komunikasi interpersonal dinyatakan efektif bila pertemuan antara pemangku kepentingan terbangun dalam situasi komunikatif—interaktif dan menyenangkan.
  • Ekspresi wajah. Ekspresi wajah menimbulkan kesan dan persepsi yang sangat menentukan penerimaan individu atau kelompok. Wajah telah lama menjadi sumber informasi dalam komunikasi interpersonal dan merupakan alat komunikasi yang sangat penting dalam menyampaikan makna dalam beberapa detik raut wajah akan menentukan dan menggerakkan keputusan yang diambil.
  • Kepribadian sangat menentukan bentuk hubungan yang akan terjalin. Kepribadian mengekspresikan pengalaman subjektif seperti kebiasaan, karakter dan perilaku. Faktor kepribadian lebih mengarah pada bagaimana tanggapan dan respon yang akan diberikan sehingga terjadi hubungan.
  • Stereotyping merupakan cara yang banyak ditemukan dalam menilai orang lain yang dilibatkan pada kategorisasi tertentu. Individu atau kelompok akan merespon pengalaman dan lingkungan dengan cara memperlakukan anggota masyarakat secara berbeda atau cenderung melakukan pengelompokan menurut jenis kelamin, cerdas, bodoh, rajin, atau malas.
  • Kesamaan karakter personal. Manusia selalu berusaha mencapai konsistensi dalam sikap dan perilakunya atau kita cenderung menyukai orang lain, kita ingin mereka memilih sikap yang sama dengan kita, dan jika menyukai orang, kita ingin memilih sikap mereka yang sama.
  • Dan lainnya

Model-model hubungan interpersonal

11-3-1-Introduction-to-Interpersonal-Relationships(1)

Model-model hubungan interpersonal

Ada beberapa teori yang menjelaskan mengenai hubungan interpersonal, yaitu :

  1. Model Pertukaran Sosial

Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya.

 2. Model peranan

Model peranan menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertidak sesuai dengan peranannya.

 3. Model interaksional

Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat-sifat struktral, integratif dan medan. Semua sistem terdiri dari subsistem-subsistem yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai suatu kesatuan.

Selanjutnya, semua sistem mempunyai kecenderungan untuk memelihara dan mempertahankan kesatuan. Bila ekuilibrium dari siste terganggu, segera akan diambil tindakannya. Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari tujuan bersama, metode komunikasi, ekspektasi dan pelaksanaan peranan.

Hubungan Antarpribadi (Interpersonal Relationship)

group chat

Hubungan Antarpribadi (Interpersonal Relationship)

Dalam kehidupan sehari hari, tentunya kita akan menjalin komunikasi dan hubungan dengan orang lain. Namun, tahukah anda bahwa pada dasarya hubungan antar individu itu sendiri dikelompokkan menjadi beberapa jenis ? Salah satunya adalah hubungan antarpribadi (interpersonal relationship).

Di dalam kehidupan masyarakat sehari hari, hubungan antar pribadi memainkan peran penting dalam membentuk kehidupan masyarakat,terutama ketika hubungan antar pribadi itu mampu memberi dorongan kepada orang tertentu yang berhubungan dengan perasaan, pemahaman informasi, dukungan, dan berbagai bentuk komunikasi yang mempengaruhi citra diri orang serta membantu orang untuk memahami harapan-harapan orang lain.

Interpersonal Relationship atau hubungan antar orang adalah hubungan komunikasi yang efektif dengan sesama manusia dan lingkungan sekitar. Tujuan utama dari Interpersonal Relationship ini adalah untuk membantu anda mengembangkan keterampilan komunikasi yang efektif antar pribadi yang akan memungkinkan anda untuk mengatasi rasa malu, persahabatan dan hubungan dengan lawan jenis, menyelesaikan konflik interpersonal dan menyadari potensi kepemimpinan anda.

Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya; makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya; sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung diantara komunikan.

Di dalam hubungan interpersonal tedapat juga komunikasi interpersonal yaitu Komunikasi interpersonal. Menurut Mulyana (2001) komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal.

De Vito (1995) mengemukakan komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang mengambil tempat antara dua orang yang memiliki hubungan yang tidak bisa dipungkiri. Menurut Rogers komunikasi interpersonal adalah merupakan komunikasi dari mulut ke mulut yang terjadi dalam interaksi tatap muka antara beberapa pribadi.

Budaya Organisasi

TOPIC-–-20-BUILDING-MARKETING-CULTURE-IN-YOUR-ORGANIZATION

Budaya Organisasi

Istilah budaya organisasi tentunya sudah tidak asing lagi bagi kita semua. Namun, bagaimana itu karakteristik budaya organisasi mungkin masih belum diketahui oleh banyak orang. Sebelum kita membahas karakteristik budaya organisasi, sebaiknya kita pahami apa itu budaya organisasi.

Budaya organisasi adalah sebuah sistem makna bersama yang dianut oleh para anggota yang membedakan suatu organisasi dari organisasi-organisasi lainnya. Sistem makna bersama ini adalah sekumpulan karakteristik kunci yang dijunjung tinggi oleh organisasi.

Gejala tersebut secara sederhana menunjukkan bahwa budaya organisasi dirasakan penting,dan tentunyadirasakan memiliki manfaat langsung maupun tak langsung. Menurut Stanley Davis budaya organisasi adalah keyakinan dan nilai bersama yang memberikan makna bagi anggota sebuah institusi dan menjadikan keyakinan dan nilai tersebut sebagai aturan/pedomam perilaku didalam organisasi.

Wheelen dan Hunger mengatakan budaya organisasi adalah himpunan dari kepercayaan, harapan, nilai-nilai yang dianut bersama oleh anggota organisasi dan diwariskan ke generasi berikutnya. Grifin dan Ebert menyebutkan budaya organisasi adalah pengalaman, sejarah, keyakinan, dan norma-norma bersama yang menjadi ciri organisasi.

Menurut Robbins budaya organisasi merupakan system nilai dan kepercayaan yang dianut bersama oleh anggota organisasi yang membedakan organisasi satu dengan yang lain. Budaya organisasi merupakan perpaduan nilai-nilai, keyakinan, asumsi-asumsi, pemahaman, dan harapan yang diyakini oleh anggota organisasi atau kelompok serta dijadikan pedoman bagi perilaku dan pemecahan masalah yang mereka hadapi menurut Hodge dan Anthony.

Budaya organisasi berkaitan dengan bagaimana karyawan memahami karakteristik budaya suatu organisasi, dan tidak terkait dengan apakah karyawan menyukai karakteristik itu atau tidak.