Perserta Mendapatkan Nilai Tinggi Namun Gagal SNMPTN

Perserta Mendapatkan Nilai Tinggi Namun Gagal SNMPTN

Setiap diselenggarakannya Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) hampir selalu menuai kontroversi ataupun ada-ada saja fenomena yang terjadi. Memang parSNMPTN merupakan seleksi yang pastinya ditunggu-tunggu oleh para siswa lulusan tingkat atas untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Dengan segala upaya mereka bekerja keras untuk dapat melanjutkan dan tembus ke bangku kuliah sesuai jurusan yang mereka minati dan inginkan.

Kebanyakan mereka masuk PTN karena banyak faktor terutama karena menurut beberapa informasi dikatakan, bahwa biaya pendidikan di PTN relative lebih murah dibandingkan jika kuliah di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Selain itu faktor lainnya adalah kualitas pendidikan PTN tentunya lebih terjamin karena dikelola langsung oleh pemerintah Indonesia. Banyaknya program beasiswa, dan yang tak kalah penting adalah prestise atau gengsi.

Mengapa tidak, secara kualitas PTN di Indonesia rata-rata sudah masuk di dalam kampus terbaik di dunia. Selain itu sejarah membuktikan bahwa hampir semua tokoh-tokoh berpengaruh dan berprestasi di Indonesia merupakan jebolan PTN. Contohnya saja BJ. Habibi yang merupakan pembuat pesawat terbang pertama di Indonesia merupakan jebolah dari Institut Teknologi Bandung (ITB), kemudian kampus-kampus favorit dengan jurusan favorit lainnya misalnya Universitas Indonesia (UI) jurusan favoritnya seperti Psikologi, Kedokteran, Hukum, Sosial, Manajemen dan Ekonominya. Istitute Pertanian Bogor (IPB) dengan jurusan IPA-nya. UIN, UGM dan lain sebagainya. Semua berlomba-lomba tuk dapat masuk atau lolos ake kampus-kampus tersebut.

Namun hal tersebut bukanlah perkara yang mudah. Buktinya, panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) mengungkapkan fakta menarik seputar hasil ujian tertulis SNMPTN 2011. Sebanyak 154.954 peserta SNMPTN atau 28 persen dari total peserta tidak lolos seleksi meski memperoleh nilai di atas rata-rata nasional. Ketua Panitia SNMPTN 2011, Herry Suhardiyanto mengatakan, hal itu terjadi karena para peserta cenderung hanya memilih satu program studi yang dinilai favorit dengan tingkat persaingan yang sangat tinggi.

Sebanyak 154 ribu orang nilainya di atas rata-rata nasional. Tetapi tidak diterima dimana-mana karena salah memilih program studi. Ada orang yang nilainya 90 tidak diterima, karena memilih program studi yang persaingannya ketat. Sementara di program studi yang keketatannya relatif rendah, nilai 40 bisa diterima

Mekanisme SNMPTN 2011 jalur ujian tertulis/keterampilan adalah perebutan tempat. Setiap peserta harus mencapai batas nilai terendah yang ditetapkan di masing-masing program studi dan masing-masing perguruan tinggi. Demikian ketatnya program studi favorit. Bahkan, ada peserta yang terpental, meski nilainya 90. Sementara di program studi lain, ada yang nilainya 30 tapi diterima. Jadi, memang mekanismenya adalah perebutan tempat.

Sebelumnya, Panitia Seleksi SNMPTN 2011 mengumumkan dari 540.953 jumlah peserta SNMPTN jalur ujian tertulis/keterampilan, peserta yang lolos seleksi sebanyak 118.233 orang. Jumlah tersebut terdiri dari kelompok IPA sebanyak 56.856 orang dan kelompok ujian IPS sebanyak 61.377 orang. Sungguh ironis bukan, fenomena tersebut dikarenakan banyaknya siswa yang tidak memberikan pilihan ke dua atau ketiga terhadap keinginan yang ingin dicapainya.

Seharusnya siswa dan siswi dibimbing oleh orang tua dan guru, atau diarahkan agar mereka dapat tetap menyelesaikan pendidikan ke jenjang yangt lebih tinggi dengan pilihapilihan yang tak kalah baik dan bijak, sehingga tidak memaksakan ke jurusan yang diinginan namun mendapatkan jurusan yang menjadi keinginan ke dua ataupun ketiga dari pilihan utamanya.

Pada kenyataannya, banyak siswa yang memaksakan tuk dapat masuk ke jurusan yang diinginakan, yakni jurusan faovorit tersebut bukan karena cita-citanya namun karena gengsi semata dan juga keinginan mendapatkan pujian. Padahal di mana pun kita menjalani pendidikan apa pun jurusannya , asal kita enjoy dan bersungguh-sungguh pasti akan menjadi orang yang sukses dan berhasil di bidangngnya, walaupun bukan di kampus favorit. Jadi, yang harus diperbaiki adalah dengan merubah pola pikir dan juga strategi dalam memilih jurusan. Ini butuh peran dari pendidik dan juga orang tua tuk mengarahkan anak didiknya dalam menentukan pilihan mereka, walau pada akhirnya merekalah pengambil keputusannya.