Sejarah Sebagai Peristiwa, Kisah, Ilmu, dan Seni adalah sisi lain dari sejarah | ujiansma.com

Kamu Berada di:
Home » IPS » Sejarah Sebagai Peristiwa, Kisah, Ilmu, dan Seni adalah sisi lain dari sejarah

Sejarah Sebagai Peristiwa, Kisah, Ilmu, dan Seni adalah sisi lain dari sejarah

 

sejarah sebagai peristiwa,ilmu dan seni

1.Sejarah sebagai peristiwa

            Para ahli sejarah atau yang biasa disebut dengan sejarawan tidak begitu saja mencatat rangkaian peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di masa lampau, tetapi mereka juga mencoba menelusuri awal muasal munculnya peristiwa itu.

            Sejarah dikatakan sebagai peristiwa karena peristiwa sejarah atau kejadian sejarah itu benar-benar ada atau sebuah kenyataan / fakta sejarah yang benar-benar terjadi pada masa lampau dan tidak dapat diulang kembali dengan persis / sama.

Contoh : Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945 tidak akan terjadi lagi pada saat ini. Akan tetapi, peristiwa proklamasi ini meninggalkan jejak-jejak sejarah berupa data, arsip, video, dan sumber-sumber lainnya yang dapat dijadikan sebuah dasar untuk merekonstruksi peristiwa tersebut.

2. Sejarah sebagai kisah

            Sejarah sebagai kisah adalah sebuah hasil rekonstruksi peristiwa masa lampau yang disusun secara sistematis berdasarkan data-data yang diperoleh dan data-data tersebut telah teruji dan dapat dapat dibaca baik dalam bentuk buku sejarah maupun karya-karya tulis lainnya. Sejarah sebagai kisah tidak dapat disamakan secara persis dengan sejarah sebagai peristiwa. Hal ini disebabkan tidak semua jejak-jejak sejarah dapat ditemukan oleh seorang sejarawan.

Contoh sejarah sebagai kisah : Kisah Ekspedisi Pamalayu yang dilakukan oleh pasukan dari Kerajaan Singasari atas perintah raja Kertanegara ke pulau Sumatra dengan tujuan menghadang serangan pasukan kerajaan Cina yang diperintahkan oleh Kaisar Khubilai Khan dan juga untuk menguasai jalur pelayaran serta perdagangan di Selat Malaka.

3. Sejarah sebagai ilmu

            Sejarah merupakan sebuah cabang ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah. Cabang ilmu pengetahuan tersebut mempelajari tentang kejadian masa lampau manusia. Sebagai cabang ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah, ilmu sejarah memiliki beberapa metode dan teori yang dapat dipakai untuk meneliti dan menganalisis, serta untuk menjelaskan kerangka kejadian masa lampau yang dipermasalahkan.

            Sebagai persyaratan suatu cabang ilmu pengetahuan, ilmu sejarah telah memiliki syarat-syarat tersebut, yaitu bersifat empiris, memiliki objek, memiliki teori, memiliki metode.

a. Bersifat empiris

     – Empiris berasal dari bahasa Yunani yaitu kata Empeiria yang berarti pengalaman. Sejarah sangat bergantung pada pengalaman manusia. Pengalaman tersebut dapat didokumentasikan dalam bentuk rekaman, dokumen, ataupun peninggalan-peninggalan dan kemudian sumber-sumber sejarah tersebut diteliti oleh sejarawan untuk menentukan kebenarannya atau faktanya. Fakta tersebut akan diinterpretasikan, kemudian dilakukan penulisan sejarah oleh sejarawan tersebut.

b. Memiliki Objek

     – Kata objek berasal dari bahasa latin yaitu kata Objectus, artinya yang dihadapan, sasaran, dan tujuan. Objek yang hendak dipelajari oleh sejarah sebagai ilmu adalah manusia dan masyarakat. Akan tetapi sejarah lebih menekankan sasaran pembelajarannya adalah kepada manusia.

c. Memiliki Teori

    – Kata teori diambil dari bahasa Yunani yaitu kata Theoria yang artinya Renungan. Sama halnya dengan ilmu sosial lainnya, sejarah juga memiliki teori yang berisi tentang kumpulan kaidah-kaidah / norma-norma pokok suatu ilmu pengetahuan, seperti contoh : teori nasionalisme dan teori geopolitik.

d. Memiliki metode

    – Kata metode berasal dari bahasa Yunani yaitu kata Methodos yang artinya Cara. Kata tersebut dapat juga diartikan sebagai suatu sistem untuk menggarap sumber atau data sejarah, mulai dari penelitian sampai penulisan. Metode sejarah tersebut mengharuskan seorang sejarawan berhati-hati dalam menarik kesimpulan atas suatu peristiwa sejarah yang terjadi.

4. Sejarah sebagai seni

            Sejarah dikatakan sebagai seni karena dalam rangka penulisan sejarah, seorag sejarawan memerlukan instuisi, imajinasi, emosi, dan gaya bahasa yang beraneka ragam. Sejarah sebagai seni dapat dihubungkan dengan cara rekonstruksi dari penulisan sejarah itu sendiri.

            Apakah maksud dari instuisi, imajinasi, emosi, dan gaya bahasa yang beraneka ragam ini ? Mari kita bahas satu per satu.

a. Instuisi

    – Instuisi merupakan sebuah ilham atau ide. Selama proses penelitian, sejarawan memerlukan hal tersebut agar ia dapat menentukan setiap langkah, memilih suatu penjelasan dan apa yang harus dikerjakannya.

b. Imajinasi

    – Dalam menuliskan sebuah peristiwa sejarah, sejarawan diharapkan dapat membayangkan apa yang sebenarnya terjadi, apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi sesudah itu. Sejarawan dituntun untuk selalu bisa membayangkan situasi dan kondisi pada masa lampau yang kemudian dituliskan dalam sebuah tulisan sejarah.

c. Emosi

    – Sejarawan dituntut dapat mengatur emosionalnya ketika meneliti sebuah sejarah agar dapat menumbuhkan rasa empati terhadap objek yang sedang ditelitinya. Sejarawan dituntut dapat menghadirkan suatu objek masa lampau tersebut yang membuat seolah-olah pembaca mengalami hal itu sendiri.

d. Gaya Bahasa

    – Gaya Bahasa dalam penulisan sejarah lebih menekankan pada bahasa yang lugas dan pemaparannya yang lebih detail. Selain itu, bahasa yang digunakan diharapkan dapat dimengerti dan dipahami oleh orang lain.


Posted by Tags: 0 Responses
     

Leave a Reply to this Post

Oct
29
2012
 
 
ujiansma.com Search form
DUKUNG GERAKAN LULUS UAN 100% Yang GAG DUKUNG berarti GAG PENGEN LULUS!!!



Recently Active Users
admin