SMA vs SMK Dimata Perguruan Tinggi | ujiansma.com

Kamu Berada di:
Home » Info pendidikan » SMA vs SMK Dimata Perguruan Tinggi

SMA vs SMK Dimata Perguruan Tinggi

 

SMK BISA? Jargon sekolah menengah kejuruan yang sedang digembar gemborkan pemerintah pada media. Kini saatnya SMK mencari jati dirinya itulah yang diinginkan pemerintah. Lewat berbagai karya anak bangsa yang memilih sekolah lanjutannya di sekolah kejuruan adalah salah satu usaha SMK mencari jati dirinya. SMK sebagai pendidikan formal yang mengedepankan pada praktek merupakan pilihan bagi orang tua yang menginginkan putra putrinya dapat bekerja setelah lulus dari SMK. Secara teori siswa SMK tidak sebaik siswa SMA, namun secara praktek siswa SMK lebih mumpuni daripada siswa SMA.

Bagi sebagian orang, memiliki pendidikan sangatlah penting untuk menunjang masa depan mereka. Teori saja masih belum bisa mumpuni dalam persaingan dunia kerja dewasa ini. Perlunya pengalaman, dan pengetahuan dalam praktek juga sangat penting. Terkadang teori juga tidak sesuai dengan prakteknya. Oleh karena itu pendidikan formal setelah lulus sangatlah penting. Banyak perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan dengan salah satu syaratnya adalah minimal D3. Inilah yang menjadikan pendidikan lanjutan setelah lulus sangatlah penting.

Perguruan tinggi adalah salah satu pendidikan lanjutan yang kini dijadikan sebagai pilihan utama dalam mencari pendidikan yang lebih tinggi. dalam perguruan tinggi banyak diajarkan nilai-nilai baru dalam kehidupan yang mungkin belum diajarkan saat SMA. Kemampuan bersosialisasi yang terus diasah dalam perguruan tinggi diharapkan mampu memberikan surplus bagi lulusan SMA dan SMK untuk dapat lebih mumpuni sehingga dapat bersaing di dunia kerja.

Pendidikan merupakan kebutuhan pokok dalam menghadapi dunia kerja yang terus berkembang. Pendidikan merupakan pondasi untuk berada di dalam dunia kerja. Secara manusiawi, pendidikan juga berguna sebagai pembentuk karakter seseorang. Dengan adanya pendidikan tak ayal jika seseorang dapat memperbaiki dirinya di masyarakat.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah dalam menjaring calon mahasiswa di perguruan tinggi. SNMPTN merupakan salah satu upaya pemerintah dalam menjaring siswa-siswa di Indonesia yang akan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri.Mata pelajaran yang diujikan antara lain, kemampuan umum yaitu tpa, bahasa indonesia, dan bahasa inggris, selain itu kemampuan IPA dan IPS juga diujikan dalam seleksi ini.

Tes seleksi ini cukup menyulitkan siswa bagi SMK. Pasalnya yang diujikan dalam seleksi ini mayoritas adalah “makanan” siswa SMA setiap harinya. Sedangkan SMK dalam kesehariannya banyak membahas tentang praktek. Inilah yang menjadi diskriminasi bagi siswa SMK. Ketika SNMPTN digelar banyak anak SMK yang harus terdepak dari kursi universitas negeri akibat dari materi yang diujikan belum mereka pahami, bahkan tidak diajarkan ketika mereka SMK dulu.

Jika diskriminasi ini terus berlangsung, maka siswa SMK ini lambat laun akan terkena seleksi alam. Dunia kerja yang terus berkembang, ijazah SMK saja tidak cukup.perlu adanya pendidikan lanjutan agar para lulusan SMK ini tidak terkena dampak seleksi alam dunia kerja. Perlu adanya usaha lain dilakukan oleh para lulusan SMK ini agar bisa setara dengan siswa SMA secara teori.

Sebagai contoh, pada beberapa fakultas yang mengedepankan praktek lebih banyak diisi oleh siswa lulusan SMA. Sedangkan siswa SMA nol dalam praktek. Fakultas teknik yang seharusnya diisi oleh para siswa yang telah berpengalaman dibidangnya akan sedikit tertinggal. Karena para dosen harus mengulangnya dari awal, bahkan mengajarkannya dari nol lagi. Inilah yang membuat waktu terbuang sia-sia.

Meskipun diskriminasi ini masih terasa, namun ada cara lain dimana lulusan SMK bisa setara dengan lulusan SMA. Mengikuti bimbel jauh hari sebelum SNMPTN digelar adalah salah satu cara yang tepat dalam usaha penyetaraan dengan lulusan SMA. Jika lulusan SMK ini memang bisa, benar saja jargon ‘SMK BISA’ memang akan benar benar terwujud.

SMK BISA, berarti SMK bisa setara dengan SMA. SMK bisa lebih di atas SMA. SMK berkarya di atas SMA.

Perguruan tinggi di Indonesia sendiri ada 3 macam. Pertama, perguruan tinggi negeri, untuk perguruan tinggi negeri ini mungkin sudah tidak asing lagi di telinga siswa SMA dan SMK. Perguruan tinggi negeri memang menjadi laris manis seiring dengan berjalannya waktu. Prospek yang cukup baik merupakan alasan utama mengapa perguruan tinggi negeri banyak dipilih oleh para orang tua dan para siswa SMA dan SMK. Kedua, perguruan tinggi swasta. Perguruan tinggi swasta juga sudah tidak asing lagi ditelinga para siswa. Perguruan tinggi swasta dan negeri hampir sama. Yang membedakan mereka adalah biaya yang dikeluarkan. Pandangan masyarakat perguruan tingi swasta pasti mahal. Padahal tidak semua perguruan tinggi swasta mengharuskan mengeluarkan biaya yang banyak. Perguruan tinggi negeri yang dinilai oleh masyarakat murah, ternyata masih juga mengharuskan mengeluarkan biaya yang banyak. Yang membedakan tiap universitas adalah kualitas dari setiap mahasiswanya. Perguruan tinggi bisa baik, karena mahasiswanya. Ketiga adalah perguruan tinggi kedinasan. PTK mungkin masih asing di telinga para calon mahasiswa. Perguruan tinggi kedinasan sudah ada sejak dahulu, namun belum terlalu eksis. Sebab, masih banyak perguruan tinggi kedianasan yang juga mengharuskan mengeluarkan biaya demi kelancaran seleksi. Ada beberapa kedinasan yang dengan jelas menyebutkan nilai nominal ternedah untuk bisa diterima di perguruan tinggi kedinasan tersebut.

Seleksi perguruan tinggi kedinasan yang dilakukan biasanya berlapis. Hal ini bertujuan untuk dapat menyaring calon-calon mahasiswa yang memang benar-benar pas untuk pergurua tinggi kedinasan tersebut. Namun tidak sedikit diataranya menggunakan beberapa jalan-jalan pintas demi melancarkan setiap tes seleksi yang dilakukan. Istilah ‘nyogog’ mungkin sudah biasa. Berpuluh-puluh juta rela digelontorkan supaya para lulusan SMA dan SMK ini bisa lolos pada setiap tahap seleksi.

Perguruan tinggi kedianasan memang berbeda dengan yang perguruan tinggi lain di Indonesia. Perguruan tinggi kedinasan menjadikan lulusannya ditempatkan pada instansi-instansi tertentu, istilah lain yang biasa digunakan adalah ikatan dinas. Jadi, hampir setiap perguruan tinggi kedinasan memiliki jatah masing-masing untuk setiap mahasiswanya dalam menduduki beberapa jabatan di suatu instansi tertentu. Sebenarnya yang lebih memiliki prospek kedepan adalah perguruan tinggi kedinasan. Sebab di perguruan tinggi kedinasan pekerjaan sudah di depan mata sehingga tidak perlu susah mencari pekerjaan yang diinginkan.

Kini saatnya SMK setara dengan SMA. Dukungan dari berbagai pihak sangatlah diperlukan dalam hal ini. Sebab, jika siswa SMK hanya bisa terpaku dalam ijazah SMK dan harus beralih dalam dunia kerja hanya karena diskriminasi seleksi saat SNMPTN merupakan tamparan keras bagi kementrian pendidikan. Pemerintah sebaiknya mengkaji ulang seleksi perguruan tinggi yang dilakukan serempak. Masih banyak anak bangsa yang mampu menduduki kursi universitas negeri dan mereka ini adalah siswa SMK yang memiliki skill tinggi.

Siswa SMK dan SMA bisa menjadi setara jika seleksi yang dilakukan pemerintah fair untuk keduanya. Toh, kedua pendidikan formal ini memiliki kelebihannya masing-masing. Selain itu, setiap pendidikan formal ini tidak akan pernah bisa disamakan. Hanya minimal disetarakan agar tidak ada kesenjangan diantara kedua pendidikan formal ini. Antara SMA dan SMK tidak hanya negeri, masih ada sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan swasta. Namun mereka juga mempunyai daya saing yang sama. Sebagai generasi penerus bangsa perbedaan tidak boleh dijadikan penghalang dalam meraih cita-cita. Sebagai generasi penerus bangsa harus bisa saling bahu membahu membangun bangsa ini menjadi lebih baik lagi.Dengan adanya kepedulian pemeritah ini, diharapkan siswa SMK bisa lebih baik dimata perguruan tinggi. Karena teori saja tidak akan pernah cukup untuk membenahi bangsa ini, perlu adanya tindakan yang konkret agar bangsa ini kedepan dapat setara dengan negara-negara maju.

Selain pemerintah, berbaai pihak juga diharapkan mendukung adanya kesetaraan ini. Perlunya guru-guru tambahan yang mampu memberikan materi yang sesuai dengan porsi penyetaraan ini. Selain itu, dukungan dari orang tua murid juga sangat diperlukan. Pola belajar yang harus terus ditingkatkan demi terwujudnya cita-cita bersama. Sebagai siswa itu sendiri juga harus memiliki kemampuan untuk berusaha keras dalam belajar. Dalam mempelajari sesuatu tidak boleh setengah-setengah semuanya harus dilakukan semaksimal mungkin. Siswa SMA dan SMK dimata perguruan tinggi adalah sama. Yang membedakan mereka hanyalah seberapa keras siswa tersebut meraih cita-cita mereka di perguran tinggi yang mereka inginkan. Dengan semangat juang yang tinggi tak ayal jika nanti SMK setara dengan SMA.


Posted by 0 Responses
     

Leave a Reply to this Post

Jan
16
2013
 
 
ujiansma.com Search form
DUKUNG GERAKAN LULUS UAN 100% Yang GAG DUKUNG berarti GAG PENGEN LULUS!!!



Recently Active Users
admin