Tari Serampang Dua Belas dari Sumatera Utara

serampang dua belas

Tarian Serampang dua belas merupakan tarian yang berasal dari provinsi Sumatera Utara sendiri. Seperti yang kita tahu bahwa daerah ini lebih banyak memiliki suku batak didalamnya. Begitu juga dengan beberapa tarian yang ada pada daerah ini sendiri. Tarian itu sendiri merupakan tarian yang memiliki banyak makna dan juga arti yang dalam bagi yang telah membuatnya, sehingga pada dasarnya tarian ini bisa saja menjadi hal yang harus selalu ada dan selalu menjadi budaya dari daerah masing-masing seperti provinsi Sumatera utara ini sendiri untuk bisa lebih mengembangkan budaya yang ada, khususnya pada bidang tarian ini sendiri untuk lebih dikenal oleh orang banyak.

Tarian yang ada di provinsi Sumatera Utara ini adalah bermacam-macam, dimana tarian tersebut adalah seperti tari tor-tor, profane, morah-morah, parakut, sipajok, patam-patam sering, dan tari kebangkiung. Tari serampang dua belas sendiri merupakan tari yang termasuk dari suku melayu sendiri. Dimana tarian ini berbeda dengan macam-macam tarian yang ada diatas, walaupun seperti itu tarian serampang dua belas ini cukup terkenal di Negara Indonesia karena seringnya dibawakan dalam acara penyambutan tamu agung ataupun untuk hal yang lainnya, sehingga tarian ini dapat membawa nama baik untuk provinsi Sumatera Utara sendiri dengan berbagai gerakan dan juga makna serta arti yang baik dalam setiap gerakan yang ditampilkannya tersebut.

Tarian dari provinsi Sumatera Utara ini sendiri pun hanya terbagi atas dua suku saja, dimana seperti yang telah kita ketahui bahwa hanya ada suku batak dan juga suku melayu. Tarian tersebut sendiri sudah dibagi masing-masing bentuk dan juga fungsinya sendiri, tentu saja di daerah ini sendiri adalah tarian yang berbentuk magis, ataupun hanya sebuah tarian adat saja yang sering dipertontonkan oleh beberapa penari yang bisa membawakan tarian tersebut. untuk orang yang membawakan tarian tersebut sendiri haruslah sesuai dengan tarian itu sendiri, dan bisa saja dalam sebuah tarian tersebut hanya ada laki-laki dan mungkin juga hanya ada perempuan, serta tidak menutup kemungkinan ada sepasang laki-laki dan juga perempuan dalam tarian tersebut.

  • Tarian Serampang Dua Belas

 

Tari serampang dua belas merupakan salah satu tarian budaya yang berasal dari Sumatera Utara yang berkembang pada masa kesultanan Serdang. Tarian ini sendiri diciptakan oleh Sauti pada tahun 1940-an dan diubah ulang oleh pencipta dari tarian ini antara tahun 1950-160. Sebelum bernama serampang duabelas ini tarian ini bernama tari Pulau Sari, sesuai dengan judul lagu yang mengiringi tarian ini sendiri yaitu lagu Pulau Sari.

Tari serampang dua belas ini sendiri berkisah tentang cinta suci dua anak manusia yang muncul sejak pandangan yang pertama dan juga diakhiri dengan pernikahan yang direstui oleh kedua orang tua sang dara dan juga teruna. Oleh karena tarian ini sendiri menceritakan proses bertemunya dua hati tersebut, maka tarian ini sendiri biasanya dimainkan secara berpasangan dimana biasanya antara laki-laki dan juga perempuan. Namun demikian, pada awal perkembangan tarian ini sendiri dibawakan oleh laki-laki karena kondisi masyarakat yang ada pada waktu itu sendiri melarang perempuan tampil di depan umum, apalagi untuk memperlihatkan lenggak-lenggok tubuhnya. Dalam tari serampang dua belas ini juga banyak sekali orang yang penasaran dan ingin sekali melihat tarian ini sendiri, bukan hanya dari warga Negara Indonesia sendiri melainkan warga dari mancanegara pun berantusias untuk melihatnya.

Nama dari tarian ini sendiri sebetulnya diambil dari dua belas ragam gerakan tari yang bercerita tentang tahapan-tahapan proses pencarian jodoh hingga memasuki tahap perkawinan sendiri. Ragam pertama adalah mengenai sikap yang masih malu-malu dan penuh tanda Tanya. Ragam kedua sendiri adalah mulai tumbuh rasa suka diantara dua hati. Ragam ketiga kegundahan dalam memendam rasa. Ragam keempat adalah mabuk kepayang. Ragam kelima adalah ragam gila. Ragam keenam adalah mencoba menangkap isyarat. Ragam ketujuh adalah kekasih yang dimabuk asmara. Ragam kedelapan adalah sepasang kekasih yang ingin mengenalkan kepada keluarga besarnya. Ragam kesembilan adalah berdebar-debar menunggu restu dari orang tua mereka. Ragam kesepuluh adalah perkawinan. Ragam kesebelas adalah ungkapan rasa syukur dan ragam terakhir adalah siap mengarungi rumah tangga tanpa adanya perpisahan.